Batu Bara ICE Newcastle Tertahan di Bawah 140,00, Kementerian ESDM RI Menetapkan HBA Baru
- ICE Newcastle terjebak dalam kisaran sideways jangka pendek.
- Presiden AS menuntut sekutu untuk membantu membuka Selat Hormuz.
- Sebagian besar Harga Batu Bara Acua (HBA) baru lebih tinggi dari sebelumnya.
Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari Jumat lalu di 137,30 yang lebih rendah 1,05% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Batu bara ini sempat naik ke 140,00 namun tidak mampu menindaklanjutinya dan malah ditutup di bawah level pembukaan.
Meskipun demikian, komoditas ini mempertahankan tren naik dalam jangka lebih panjang karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari dengan Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 62,07, mengindikasikan momentumnya bullish. Dalam jangka pendek, batu bara ini tampak membentuk kisaran sideways, terutama setelah mencatatkan tertinggi baru 2026 di 150,00.
Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia pada saat berita ini ditulis adalah sekitar 28°C dan diprakirakan cerah sepanjang hari. Dengan demikian proses pemuatan batu bara tidak terganggu oleh faktor cuaca sehingga menghapusnya dari faktor yang bisa memengaruhi harga.
Harga batu bara dan komoditas-komoditas lainnya masih dipengaruhi oleh perkembangan perang antara AS-Israel dengan Iran yang sudah berlangsung sejak akhir bulan lalu. Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi lalu lintas bagi 20% pasokan minyak dunia, serta LNG (Liquified Natural Gas) di awal-awal perang.
Penutupan tersebut mengakibtkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat naik di atas $100 pada Senin pekan lalu. Upaya-upaya dilakukan untuk mengatasi kenaikan harga dan dampak ekonomi, dengan International Energy Agency (IEA) menyetujui rencana untuk merilis cadangan minyak negara-negara anggotanya sebesar 400 juta barel. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini menuntut sekutu-sekutu untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Seperti disebutkan di atas, pasokan LNG dari Timur Tengah menjadi terganggu. Gangguan ini bisa mendorong harga batu bara mengingat perannya sebagai sumber energi alternatif temporer saat pasokan LNG terganggu. Sebelumnya, negara-negara barat mulai mengurangi penggunaan batu bara ke sumber-sumber energi yang lebih ramah lingkungan seperti LNG dan lainnya.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 124.K/MB.01/MEM.B/2026. Sebagian besar menunjukkan kenaikan dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $103,01 naik dari $102,37
- Batubara I (5.300 GAR) $71,55 naik dari $71,29
- Batubara II (4.100 GAR) $48,32 naik dari $47,64
- Batubara III (3.400 GAR) $34,25 tidak berubah dari sebelumnya
Kenaikan sebagian besar harga batu bara acuan ini terjadi menyusul perang antara AS-Israel dengan Iran sejak akhir bulan Februari yang mengakibatkan kenaikan harga-harga komoditas terutama minyak mentah. Harga di atas berlaku sampai akhir bulan ini dan akan diperbarui kembali di awal bulan depan.
Di luar gejolak konflik Timur Tengah yang menimbulkan kenaikan harga minyak mentah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, mengatakan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Jumat lalu bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) aman menuju Idulfitri. Sebelumnya, Menteri Bahlil mengklaim bahwa harga BBM bersubdisi tidak akan dinaikkan sampai Idulfitri.
Pada hari Minggu kemarin, Menteri Bahlil bertemu dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa, dan menghasilkan penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) dua bidang strategis yaitu mineral kritis dan energi nuklir, seperti diinformasikan dalam siaran pers Kementerian ESDM.
Ke depan, kedua negara juga akan meneruskan pembicaraan terkait penguatan ketahanan energi kawasan termasuk kerja sama rantai pasok LNG (Liquified Natural Gas) dan batu bara serta proyek transisi energi di bawah kerangka Asia Zerp Emission Community (AZEC).
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Gas Alam
Dinamika penawaran dan permintaan merupakan faktor utama yang memengaruhi harga Gas Alam, dan dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global, aktivitas industri, pertumbuhan populasi, tingkat produksi, dan inventaris. Cuaca memengaruhi harga Gas Alam karena lebih banyak Gas digunakan selama musim dingin dan musim panas untuk pemanasan dan pendinginan. Persaingan dari sumber energi lain memengaruhi harga karena konsumen dapat beralih ke sumber yang lebih murah. Peristiwa geopolitik merupakan faktor yang dicontohkan oleh perang di Ukraina. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ekstraksi, transportasi, dan masalah lingkungan juga memengaruhi harga.
Rilis ekonomi utama yang memengaruhi harga Gas Alam adalah buletin inventaris mingguan dari Badan Informasi Energi (EIA), sebuah badan pemerintah AS yang menghasilkan data pasar gas AS. Buletin Gas EIA biasanya terbit pada hari Kamis pukul 14:30 GMT (21:30 WIB), sehari setelah EIA menerbitkan buletin Minyak mingguannya. Data ekonomi dari konsumen besar Gas Alam dapat memengaruhi penawaran dan permintaan, yang terbesar di antaranya adalah Tiongkok, Jerman, dan Jepang. Gas Alam terutama dihargai dan diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga sejumlah rilis ekonomi yang memengaruhi Dolar AS juga menjadi faktor.
Dolar AS adalah mata uang cadangan dunia dan sebagian besar komoditas, termasuk Gas Alam, dihargai dan diperdagangkan di pasar internasional dalam Dolar AS. Dengan demikian, nilai Dolar AS merupakan faktor dalam harga Gas Alam, karena jika Dolar menguat, berarti lebih sedikit Dolar yang dibutuhkan untuk membeli volume Gas yang sama (harga turun), dan sebaliknya jika USD menguat.