A partir de ahora somos Elev8

Somos más que un simple corredor. Somos un ecosistema de trading todo en uno: todo lo que necesitas para analizar, operar y crecer está en un solo lugar. ¿Listo para elevar tu trading?

USD/IDR: Rupiah Cetak Rekor Terlemah Baru di Area 17.150, Tekanan Global dan Dolar Menahan Ruang Pemulihan

  • Rupiah menyentuh 17.153 per Dolar AS, kembali mencatat level terlemah baru dan melanjutkan fase price discovery.
  • IMF memangkas proyeksi global ke 3,1%, dengan risiko resesi jika harga energi tetap tinggi.
  • Negosiasi AS-Iran dan ekspektasi suku bunga The Fed membuat pasar berhati-hati, membatasi ruang penguatan Rupiah.

Rupiah masih memperlihatkan tren pelemahan, dengan pergerakan terbaru mendorong nilai tukar ke kisaran 17.140-17.150 per Dolar AS, sekaligus kembali mencetak level terlemah baru sepanjang masa di 17.153. Tekanan ini terbentuk di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven serta ekspektasi suku bunga acuan The Fed yang bertahan tinggi lebih lama, meskipun harga energi mulai mereda setelah lonjakan sebelumnya. Dalam lanskap tersebut, Rupiah melanjutkan fase price discovery, dengan pasar terus mencari keseimbangan baru di level yang belum pernah teruji sebelumnya.

IMF Turunkan Prospek Global ke 3,1%, Tekanan Eksternal Menahan Rupiah

Laju Rupiah pada perdagangan Kamis juga berada dalam bayang-bayang penurunan prospek ekonomi global, setelah IMF dalam laporan World Economic Prospek memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 3,1% dan menegaskan risiko condong ke sisi negatif. Tekanan ini dipicu oleh konflik geopolitik dan lonjakan harga energi, dengan skenario ekstrem menunjukkan pertumbuhan bisa turun ke 2,5% hingga 1,8%, mendekati fase resesi global.

Meski demikian, IMF tetap memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,0% pada 2026 dengan inflasi di kisaran 3,0%, sementara pemerintah menilai fundamental domestik masih kuat, ditopang konsumsi dan stabilitas kebijakan. Namun bagi Rupiah, tekanan eksternal tetap dominan, karena meningkatnya preferensi terhadap aset safe haven dan risiko kenaikan biaya energi yang memperbesar beban impor.

Di Antara Harapan Damai dan Suku Bunga Tinggi, Rupiah Masih Mencari Arah

Dari sisi geopolitik, konflik AS-Iran memasuki fase negosiasi di tengah tekanan militer yang masih aktif. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran serta ancaman Iran untuk menghentikan jalur perdagangan di kawasan Teluk menjaga risiko tetap tinggi, meski Washington mulai menunjukkan optimisme terhadap peluang kesepakatan damai dan potensi perundingan lanjutan dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat pasar cenderung menahan langkah – tidak lagi sepenuhnya risk-off, namun juga belum cukup yakin untuk beralih ke risk-on.

Di sisi lain, pasar mulai membuka ruang terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga AS, seiring harapan de-eskalasi konflik dan kekhawatiran perlambatan global, meski belum menjadi skenario utama. Namun, pernyataan pejabat The Fed Beth Hammack mencerminkan sikap yang lebih hati-hati, dengan menilai suku bunga sudah berada di posisi tepat dan arah inflasi masih bergantung pada harga energi. Selama tekanan energi bertahan dan belum ada sinyal pelonggaran yang jelas, Dolar AS cenderung tetap ditopang, sehingga ruang penguatan Rupiah masih terbatas.

Menunggu Data AS, Rupiah Masih Berada dalam Tren Pelemahan

Selain geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada data ekonomi AS hari ini – Klaim Tunjangan Pengangguran, survei manufaktur The Fed Philadelphia, dan produksi industri – yang akan memberi petunjuk arah suku bunga The Fed. Data yang kuat berpotensi memperkuat Dolar AS dan menambah tekanan pada Rupiah, sementara hasil yang lebih lemah dapat membuka ruang stabilisasi.

Pada saat yang sama, Rupiah masih menunjukkan bias melemah, dengan 17.000 menjadi area uji balik setelah ditembus pada 6 April. Di sisi pelemahan, level 17.100 – yang sebelumnya menahan tekanan pada 13 April – kini beralih menjadi acuan dalam tren pelemahan lanjutan. Sementara itu, pergerakan ke 17.140-17.150 mencatat level terlemah baru, membuka ruang ke 17.200, lalu 17.300-17.400 jika tekanan berlanjut. Sebaliknya, jika tekanan mereda, Rupiah berpeluang kembali ke 17.000, sebelum menuju 16.900 dekat level terkuat pada 13 Maret di 16.897.

Indikator Ekonomi

Survei Manufaktur The Fed Philadelphia

Survei Manufaktur Fed Philadelphia adalah indeks penyebaran kondisi manufaktur (gerakan manufaktur) dalam Federal Reserve Bank of Philadelphia. Survei ini, disajikan sebagai indikator manufaktur tren sektor, yang terkait dengan manufaktur ISM Index (Institute for Supply Management) dan indeks produksi industri. Hal ini juga digunakan sebagai perkiraan Indeks ISM. Umumnya, pembacaan di atas harapan dipandang sebagai positif bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Apr 16, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 10

Sebelumnya: 18.1

Sumber: Federal Reserve Bank of Philadelphia


HICP (Thn/Thn) Austria Maret sesuai Prakiraan 3.1%

HICP (Thn/Thn) Austria Maret sesuai Prakiraan 3.1%
Leer más Previous

USD: Risiko kejutan pasokan dan aliran modal – BNY

Geoff Yu dari BNY mencatat bahwa meskipun terjadi guncangan pasokan besar pada 2022–2023, arus modal swasta ke aset Amerika Serikat (AS), termasuk Treasury dan ekuitas, tetap tangguh meskipun surplus perdagangan APAC (Asia-Pasifik) dan Eropa menurun.
Leer más Next