From now on we Elev8
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
Rupiah masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa menjelang sesi Eropa, tercermin dari USD/IDR yang naik ke 17.128 atau bertambah 42 poin setara 0,25%. Pergerakan ini menunjukkan rupiah belum lepas dari tekanan pasar di tengah suasana global yang masih defensif. Sepanjang sesi Asia, Rupiah bergerak dalam kisaran 17.096,8 hingga 17.148,0 per dolar AS, dengan posisi terakhir bertahan dekat area terlemahnya hari ini.
Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap Rupiah belum banyak berkurang. Level saat ini juga hanya berjarak sekitar 67 poin dari level terlemah dalam rentang 52 minggu di 17.195, sehingga pasar masih melihat ruang pelemahan rupiah sebagai risiko yang belum sepenuhnya tertutup. Kedekatan dengan area terlemah tahunan itu ikut memperlihatkan bahwa pelaku pasar belum cukup yakin untuk menggeser posisi ke aset berisiko secara lebih agresif.
Di dalam negeri, perhatian investor kini tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang akan diumumkan besok, 22 April. Pasar tampak memilih menunggu konfirmasi baru sebelum memperbesar eksposur, terutama karena arah kebijakan moneter BI akan dibaca bukan hanya dari level suku bunga, tetapi juga dari nada bank sentral terhadap stabilitas Rupiah, inflasi, dan tekanan eksternal.
Survei Reuters terhadap 31 ekonom menunjukkan BI diprakirakan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%. Bersamaan dengan itu, tekanan akibat perang Iran dan mahalnya energi mulai mengikis ekspektasi pelonggaran moneter. Reuters juga mencatat lebih dari 60% ekonom kini memprakirakan tidak ada perubahan suku bunga sepanjang 2026. Gambaran ini menyiratkan bahwa fokus pasar tidak lagi sekadar pada peluang pemangkasan, tetapi pada seberapa kuat BI mempertahankan stabilitas di tengah kombinasi risiko global dan tekanan kurs.
Pasar juga masih mencerna langkah pemerintah dalam menahan dampak gejolak energi terhadap stabilitas makro. Sejumlah kebijakan mulai dari rencana tambahan subsidi energi yang diprakirakan bisa mencapai Rp100 triliun, pembatasan penjualan BBM bersubsidi, penahanan harga BBM subsidi Pertamina, hingga efisiensi anggaran dan penghematan energi, membentuk narasi bahwa pemerintah berupaya meredam tekanan inflasi impor di tengah kenaikan risiko minyak akibat konflik Iran-AS.
Kebijakan tersebut membantu menjaga persepsi stabilitas daya beli dan menahan kekhawatiran terhadap inflasi domestik yang terlalu cepat. Meski demikian, pasar belum sepenuhnya lega. Investor tetap menimbang konsekuensi kebijakan itu terhadap ruang fiskal, sehingga efek penenangnya terhadap rupiah cenderung berjalan berdampingan dengan evaluasi ulang atas daya tahan anggaran pemerintah.
Dari sisi eksternal, Rupiah berpotensi bergerak hati-hati karena pasar global masih mengukur arah konflik Iran-AS. Sentimen sempat membaik setelah muncul harapan bahwa perundingan AS-Iran di Pakistan masih mungkin berlangsung, meski Iran belum mengonfirmasi keikutsertaannya. Harapan ini membantu meredakan sebagian kecemasan atas gangguan pasokan energi, menahan permintaan terhadap aset safe haven, dan mendorong koreksi harga minyak dari lonjakan sebelumnya.
Namun, perbaikan sentimen itu belum cukup kokoh. Ketegangan kembali meningkat setelah AS menyita kapal berbendera Iran, yang memicu ancaman balasan dari Teheran dan membuat prospek gencatan senjata tetap tidak pasti. Selama risiko eskalasi di sekitar Hormuz belum benar-benar mereda, pasar cenderung menjaga kewaspadaan karena lonjakan baru harga minyak dapat kembali memperkuat dolar AS dan menekan rupiah.
Di tengah latar itu, koreksi harga minyak memberi sedikit penyangga bagi mata uang kawasan pada awal sesi Asia termasuk rupiah. Harga kontrak berjangka WTI Crude Oil (Nymex) Mei 2026 tercatat di US$87,95 per barel, turun 1,85%, sementara Brent Crude (ICE) kontrak Juni 2026 berada di US$94,44 per barel, turun 1,09%, seiring harapan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Meski begitu, pasar tampaknya belum siap melepas seluruh posisi defensifnya. Koreksi minyak memang memberi napas pendek bagi aset kawasan, tetapi belum cukup untuk menghapus premi risiko geopolitik sepenuhnya. Dengan kata lain, sentimen membaik, tetapi fondasinya masih rapuh dan mudah berubah bila muncul berita baru dari Timur Tengah.
Arah Rupiah selanjutnya juga akan diuji oleh rangkaian data ekonomi AS pada Selasa, 21 April, mulai dari rata-rata empat minggu perubahan ketenagakerjaan ADP pukul 12:15 GMT (19:15 WIB), lalu Penjualan Ritel Maret 12:30 GMT (19:30 WIB). Fokus kemudian bergeser ke pidato calon Ketua The Fed Warsh pada 14:00 GMT (21:00 WIB), berbarengan dengan rilis penjualan rumah tertunda Maret, sebelum pasar mencermati pidato Gubernur The Fed Christopher Waller pada 18:30 GMT (Rabu, 01:30 WIB). Serangkaian agenda ini dapat membentuk ulang ekspektasi suku bunga AS dan ikut menentukan apakah tekanan pada rupiah bertahan atau mulai mereda.
Data Penjualan Ritel, yang dirilis oleh Biro Sensus AS setiap bulan, mengukur nilai total penerimaan toko ritel dan makanan di Amerika Serikat. Perubahan persentase bulanan mencerminkan tingkat perubahan dalam penjualan tersebut. Metode pengambilan sampel acak terstratifikasi digunakan untuk memilih sekitar 4.800 perusahaan ritel dan jasa makanan yang penjualannya kemudian ditimbang dan dijadikan tolok ukur untuk mewakili keseluruhan lebih dari tiga juta perusahaan ritel dan jasa makanan di seluruh negeri. Data disesuaikan dengan variasi musiman serta perbedaan hari libur dan hari perdagangan, tetapi tidak untuk perubahan harga. Data Penjualan Ritel diikuti secara luas sebagai indikator belanja konsumen, yang merupakan pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Apr 21, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 1.4%
Sebelumnya: 0.6%
Sumber: US Census Bureau
Data Penjualan Ritel yang diterbitkan oleh Biro Sensus AS merupakan indikator utama yang memberikan informasi penting tentang belanja konsumen, yang berdampak signifikan terhadap PDB. Meskipun angka penjualan yang kuat cenderung mendongkrak USD, faktor eksternal, seperti kondisi cuaca, dapat mendistorsi data dan memberikan gambaran yang menyesatkan. Selain data utama, perubahan dalam Grup Kontrol Penjualan Ritel dapat memicu reaksi pasar karena digunakan untuk menyiapkan perkiraan Pengeluaran Konsumsi Pribadi untuk sebagian besar barang.