Mulai sekarang, kami Elev8
Kami bukan sekadar broker. Kami adalah ekosistem trading all-in-one—semua yang Anda butuhkan untuk menganalisis, trading, dan berkembang ada di satu tempat. Siap untuk meningkatkan trading Anda?
Kami bukan sekadar broker. Kami adalah ekosistem trading all-in-one—semua yang Anda butuhkan untuk menganalisis, trading, dan berkembang ada di satu tempat. Siap untuk meningkatkan trading Anda?
Pada perdagangan Senin, 27 April 2026, Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS. Mata uang Garuda ini melemah 25,2 poin atau turun 0,15% ke 17.231 menjelang sesi Eropa, setelah bergerak dalam rentang harian 17.190-17.253. Posisi ini menunjukkan Rupiah masih sulit keluar dari area lemah, meski sempat mencatat pemulihan terbatas pada akhir pekan lalu. Pada Jumat, Rupiah ditutup menguat 57 poin atau 0,33% ke Rp17.229 per Dolar AS dari Rp17.286, sebelum kembali bergerak di sekitar Rp17.211 pada Senin pagi. Secara tahunan, pasangan mata uang USD/IDR masih naik sekitar 2,36% dan berada dekat level tertinggi 52 minggu di 17.323.
Dari sisi data domestik, Foreign Direct Investment (FDI) YoY Kuartal I tumbuh 8,5% pada Senin, 27 April 2026 pukul 04:00 GMT, meningkat dari periode sebelumnya sebesar 4,3%. Kenaikan ini memberi sinyal bahwa arus investasi langsung asing ke Indonesia masih cukup kuat, sekaligus menjadi penyeimbang sentimen di tengah tekanan Rupiah, risiko geopolitik, dan ketidakpastian arah suku bunga global.
Respons kebijakan domestik masih bertumpu pada stabilisasi moneter dan ketahanan fiskal. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 4,75%, Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,50%, sambil memperkuat intervensi melalui pasar NDF luar negeri, spot, dan DNDF domestik. BI juga membuka ruang penguatan kebijakan moneter tambahan jika diperlukan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1%.
Di sisi fiskal, pemerintah menyebut masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun-Rp423 triliun sebagai bantalan APBN. Namun, pasar tetap mencermati risiko kenaikan beban subsidi jika harga energi global terus naik. Sementara itu, OJK menilai likuiditas valas perbankan masih memadai, tercermin dari Posisi Devisa Neto (PDN) 1,46% pada Februari 2026, yang masih jauh di bawah batas prudensial. Regulator juga mendorong perbankan dan korporasi memperkuat hedging, kecukupan likuiditas, serta diversifikasi pendanaan valas.
Sementara itu, tekanan eksternal masih berasal dari konflik Iran-AS. Perkembangan sejak akhir pekan menunjukkan jalur diplomasi belum tertutup sepenuhnya, setelah Iran dilaporkan mengajukan proposal melalui mediator Pakistan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Namun, sikap Washington masih keras setelah Presiden Donald Trump membatalkan kunjungan utusannya ke Islamabad dan menyatakan Iran dapat menghubungi AS jika ingin bernegosiasi. Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik tetap bertahan, terutama karena Selat Hormuz masih menjadi titik rawan bagi pasokan energi global.
Fokus pasar pekan ini juga tertuju pada Keputusan Suku Bunga The Fed, Pernyataan Kebijakan Moneter, dan Konferensi Pers FOMC. Survei Reuters menunjukkan ekspektasi pemangkasan suku bunga AS bergeser lebih lambat, dengan 56 dari 103 ekonom memprakirakan suku bunga tetap di 3,5%-3,75% setidaknya hingga September. Proyeksi inflasi PCE juga direvisi naik menjadi 3,7% pada Kuartal II, 3,4% pada Kuartal III, dan 3,2% pada Kuartal IV. Meski 71 dari 103 ekonom masih melihat peluang setidaknya satu kali pemangkasan sebelum akhir tahun, prospek suku bunga tinggi lebih lama tetap membatasi ruang pemulihan Rupiah karena menjaga daya tarik Dolar AS dan imbal hasil aset AS.
Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.
Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.