Mulai sekarang kamiialah Elev8

Kami lebih daripada sekadar broker. Kami adalah ekosistem dagangan serba ada—semua yang anda perlukan untuk menganalisis, berdagang, dan berkembang ada di satu tempat. Sedia untuk tingkatkan dagangan anda?

Batu Bara ICE Newcastle Dibuka di 134,10, Menantikan Respon AS terhadap Proposal Iran

  • Batu Bara ICE Newcastle belum bergerak setelah naik lebih dari 1,5% kemarin.
  • Pasar menantikan tanggapan Amerika Serikat terhadap proposal Iran.
  • Pemerintah Indonesia mencoba menjajaki menggunaan Compressed Natural Gas (CNG).

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 134,10 pada saat berita ini ditulis yang belum menunjukkan perubahan sejauh ini setelah dibuka di level tersebut. Batu bara tampak diam sejenak setelah naik 1,51% pada hari kemarin di tengah belum ada tanda-tanda Selat Hormuz akan dibuka dan harga minyak dunia yang tetap tinggi.

Batu bara melanjutkan kebangkitan dari 117,50, terendah 21 April 2026 yang membuat indikator Relative Strength Index (RSI) kembali di atas level netral 50, mengindikasikan momentumnya berubah bullish. Aksi tersebut mempertahankan tren bullish yang ditunjukkan oleh posisi harga batu bara yang bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, saat ini di 116,01.

Suhu di pelabuhan Newcastle Australia sekitar 22°C dengan kondisi langit cerah berawan. Dengan demikian, cuaca tidak akan mengganggu proses pemuatan batu bara ke dalam kapal di pelabuhan sehingga tidak akan menjadi faktor yang menjadi penggerak harga komoditas sepanjang hari ini.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membahas proposal Iran bersama tim keamanan nasionalnya. Namun, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebutkan bahwa pada saat ini hanya sebatas membahas, belum ada informasi lebih lanjut dan Presiden AS akan menyampaikannya sendiri terkait masalah ini.

Sebelumnya, Iran memberikan proposal yang isinya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang namun menginginkan penundaan perundingan terkait nuklir. Selat Hormuz tetap tidak bisa dilalui dengan bebas saat pasar menantikan kabar terbaru, membuat distribusi komoditas-komoditas energi terganggu yang pada akhirnya tetap penjadi pendorong sentimen utama terhadap harga komoditas, seperti harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang tetap tinggi di area $97,40 pada saat berita ini ditulis.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $103,43 naik dari $99,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $77,71 naik dari $72,28
  • Batubara II (4.100 GAR) $52,84 naik dari $49,99
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,30 naik dari $35,23

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, dalam keterangan pers pasca bertemu Presiden RI, Prabowo Subianto pada hari kemarin, menyebut bahwa pemerintah berupaya memanfaatkan sepenuhya penggunaan gas domestik untuk mencapai kemandirian energi, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Strategi yang dikaji adalah pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) untuk subsitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG). Menteri Bahlil mengatakan produksi LPG dalam negeri sebesar 1,6–1,7 ton per tahun sementara konsumsinya mencapai 8,6 juta ton sehingga sebagian besar masih diimpor.

Meskipun ini masih dalam tahap pembahasan, Bahlil menyebut CNG pada dasarnya sudah dimanfaatkan di berbagai sektor seperti perhotelan, restoran serta sebagian Stasitun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Beliau mengatakan, "Karena di era egopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode. Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan."

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcatle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcatle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

NZD/USD tetap stabil setelah turun di bawah 0,5900

Pasangan mata uang NZD/USD terdepresiasi setelah dua hari mengalami kenaikan, diperdagangkan di kisaran 0,5890 selama perdagangan sesi Eropa pada hari Selasa. Pasangan mata uang ini kehilangan posisi seiring Dolar AS (USD) menguat akibat meningkatnya permintaan safe-haven di tengah terhentinya perundingan damai Amerika Serikat (AS)-Iran.
Baca lagi Previous

Brent: Prakiraan Lebih Tinggi dengan Risiko Gangguan – ING

Analis komoditas ING, Warren Patterson, menaikkan perkiraan ICE Brent karena gangguan berkepanjangan melalui Selat Hormuz terus berlanjut dan perundingan damai antara AS dan Iran terhenti
Baca lagi Next